Rabu, 02 September 2009

Kotak Amal

Pelajaran Kotak Amal

Sama seperti biasanya, Jum’at siang itu saya lalui dengan menunaikan sholat Jum’at di sebuah masjid yang tidak begitu besar. Entah karena jumlah jamaahnya terlalu banyak atau karena masjid itu memang kecil sampai-sampai setiap sholat Jum’at selalu menggunakan sebuah pendapa di depannya untuk menampung jumlah jamaah yang sholat Jum’at. Tidak biasanya siang itu ketika khotbah, saya terus memperhatikan suatu hal yang tidak biasanya saya perhatikan karena mungkin hal itu saya anggap tidak penting, yakni kotak amal. Ada beberapa hal yang saya renungkan saat itu, yang pertama adalah kenapa setiap ibadah Jum’atan, di sebagian besar masjid, kotak amal selalu diedarkan saat khotbah Jum’atan berlangsung dan selalu beredar dari depan ke belakang. Yang saya herankan adalah cara ini sebenarnya cukup efektif dalam mengumpulkan shodaqah dari jamaah tapi apakah cukup efektif dalam keefektifan ibadah shodaqah yang diberikan jamaah itu sendiri. Kenapa bisa begitu?Pertama bisa jadi niat shadaqah jamaah bukan untuk ibadah akan tetapi hanya untuk riya’ semata atau merasa tidak enak / gengsi dengan tetangganya yang mungkin duduk bersebelahan kalau tidak memberikan “sumbangan kecil” untuk masjid. Inilah yang membuat tertolaknya suatu amalan ibadah, yakni niat yang tidak ditujukan kepada ALLAH SWT. Kedua, dengan cara ini sebenarnya kita dididik untuk bershadaqah setelah “dipaksa” dengan kotak amal yang ada di depan kita. Analoginya adalah kotak amal tersebut adalah pengemis yang mendatangi kita dan meminta kita untuk memberikan sedikit uang untuk dia, unsur ikhlas biasanya tidak ada saat keadaan kita terpaksa saat itu. Wahai umat Islam, apakah kalian tidak malu dengan umat agama lain, yang tanpa disodori sebuah kotak amal mereka pun rela untuk menyumbangkan 10% untuk kebaktiannya kepada Tuhan.Sungguh sangat kontras sekali dengan keadaan kita. Memang hidup sekarang ini sedang susah, tapi ingatkah engkau saudaraku bahwa membelanjakan harta kita di jalan ALLAH di waktu kita kelebihan adalah sesuatu yang biasa, tapi dengan memberikan harta kita di waktu kita sedang mengalami kekurangan adalah sesuatu yang luar biasa. Ingatlah janji ALLAH SWT yang akan menambah nikmat yang kita dapat kalau kita pandai bersyukur, salah satunya adalah dengan memberikan sebagian harta kita kepada yang membutuhkan. Saudaraku , marilah kita luruskan niat kita, bershadaqah dengan niat karena ALLAH SWT. Semoga ALLAH SWT mengangkat derajat kita lebih tinggi di akhirat nanti. Amin

Islam sakit

Islam “Sakit” karena Umat Islam Sendiri

Ingat sebuah hadist yang menerangkan bahwa pada suatu saat umat Islam yang memegang teguh agama Islam seperti memegang bara api, sehingga tidak akan lama umat Islam menjalankan akidah Islamnya karena banyaknya tekanan dan penderitaan yang dirasakan. Saudaraku, itulah yang sedang saya rasakan atau mungkin engkau juga merasakannya. Saya sedih melihat pemberitaan yang selalu memojokkan agama Islam hanya karena orang-orang yang (maaf) berpikiran terlalu pendek yang malah merusak nilai-nilai agama yang sempurna ini. Untuk di negeri-negeri tetangga yang memang keadaannya memungkinkan untuk melakukan jihad, saya tidak akan berkomentar banyak. Tetapi untuk di Indonesia, Astagfirullahal Adzhim. Saudaraku, kalau memang Islam mengajarkan untuk membela panji-panji Islam dengan membinasakan umat lain yang “dianggap” musuh, maka renungkanlah mengapa Nabi Muhammad masih melindungi penduduk yang beragama selain Islam di Mekkah, meskipun dengan membayar sebuah “upeti” kepada umat Islam saat itu. Ingatkah engkau, pesan Rasullulah bahwa jihad terbesar bukan membunuh orang kafir akan tetapi mengendalikan hawa nafsu, termasuk hawa nafsu untuk membunuh. Apakah tingkatan imanmu hanya terbatas hanya pada jihad berperang melawan musuh yang tampak saja padahal ALLAH SWT menjanjikan pahala yang lebih besar daripada itu. Saudaraku, membunuh bukanlah jawaban atas kondisi umat Islam saat ini, seandainya orang-orang yang mengaku dirinya “mujahid” yang telah gugur dalam pengeboman di Indonesia, mereka pasti akan menyesali perbuatannya dulu. Bukan doa keselamatan yang diberikan kepada mereka akan tetapi cercaan, celaan bahkan tuntutan umat Islam sendiri di akhirat bila mereka bertemu keluarga muslim yang tidak terima atas perbuatannya tersebut. Wahai saudaraku yang mempunyai ilmu agama yang tinggi, amalkanlah ilmumu dengan benar. Islam datang dengan kasih sayang janganlah kau rusak dengan sifat-sifat syeitan, yakni kebencian dan kebinasaan. Sungguh saya bukan orang yang pintar dalam ilmu agama, tapi saya memeluk agama ini karena agama ini telah mengajarkan saya makna hidup. Saudaraku, engkau tidak mengetahui takdir seseorang, sudahkah engkau renungkan apabila orang-orang kafir yang telah engkau bunuh 5 tahun lagi akan memeluk Islam karena hidayah ALLAH SWT dan menjadi orang yang bersedia menyerahkan hidupnya kepada Islam dengan berdakwah dan mengajarkan agama Islam kepada saudaranya yang belum mengenal Islam di negaranya. Masihkah engkau merasa bangga telah membunuh mereka. Ingatlah dunia hanya terdiri dari dua hal yang berlawanan, halal-haram, baik-buruk, kafir-muslim, apakah orang yang jahat selama hidupnya akan terus jahat?Apakah orang kafir selamanya menjadi kafir?Apakah orang muslim selamanya menjadi orang muslim?Belum tentu saudaraku. Sungguh saya ingin bertemu denganmu, apa yang ada di benakmu saudaraku, engkau adalah orang Islam yang lembut dan menjadi cahaya bagi alam semesta. Seandainya engkau masih haus untuk membinasakan umat lain dan sebagian umat Islam lainnya, cukuplah saya yang engkau binasakan daripada engkau membuat umat Islam yang lain semakin sengsara dan susah dalam menjalankan ibadah dan akidahnya. Sesungguhnya ketika ALLAH SWT menghendaki sesuatu terjadi maka akan terjadi.